Penulis: Deky Ikwal Pratama
Hari-hari ini gue rasa banyak banget orang yang bisa menghabiskan waktu hanya karena memainkan smartphone. Smartphone sudah layak dikategorikan sebagai kebutuhan primer untuk masyarakat. Smartphone bak menjadi sebuah etalase di Warung Tegal (Warteg), yang mana kontennya sangat beragam dan bebas pilih, mulai dari film, e-book, game, sampai ke anime sekali pun. Kalau makan di Warteg harus ada uang, di smartphone harus ada paket data. Sedikit persis lah ya? “Karo opo mas?”.
Gue enggak bakal bahas soal spek smartphone, atau rekomendasi Warteg termurah di Bogor, dan bukan juga ngebahas cara ubah kuota data Kemdikbud jadi kuota data reguler. Gue cuman mau bahas anime di sini, yang wibu pasti paham apa itu anime. Anime itu semacam series animasi gitu, yang buat beda dengan series animasi lain cuman perkara negara asalnya, yaitu Jepang. Omong-omong maaf ya kalau jalan-jalannya terlalu jauh, dari Glodok ke Tegal, terus dari Tegal ke Jepang. Tapi kira-kira di Glodok ada orang Jepang yang buka Warteg enggak ya?
Oke udah dulu intermesonya. Jadi gini, ada salah satu anime terbaik dan gue suka banget di antara Anime Weekly Shonen Jump yang pernah muncul, yaitu anime Death Note. Oke, kenapa Death Note? Karena Death Note ini bukan saja memukau dari segi cerita, namun dia juga mampu membawa penonton untuk turut berpikir dan dibuat pusing tujuh keliling. Sebagai contoh, kita diajak berpikir tentang bagaimana cara L Lawliet untuk dapat mengalahkan Light Yagami, atau begitu pun dengan hal yang sebaliknya.
Oke, di balik pembukaan gue yang panjang lebar ini, intinya gue cuman mau menyampaikan pesan ke salah satu karakter di Death Note. Bukan untuk L, tapi untuk Light. Kenapa Light? Pesan apa yang ingin gue sampaikan? Jawabannya ada di tulisan ini, jadi kalian harus baca dulu. Oh iya baru inget, kalian juga sangat-sangat disarankan untuk mau ngegoogling, karena ada beberapa istilah yang gue pake mungkin akan sulit dimengerti untuk beberapa orang, jadi kalau enggak ngerti tinggal googling aja ya. Oke mari kita berangkat.
Asal Muasal Kelahiran si Buku Catatan Kematian
Anime Death Note sendiri merupakan sebuah adaptasi dari cerita komik (manga) yang berjudul serupa. Manga Death Note ditulis oleh Tsugumi Ohba dan diilustrasikan oleh Takeshi Obata. Manga-nya terbit pada kisaran Desember 2003 sampai Mei 2006. Lalu, Death Note sebagai anime diproduksi oleh Madhouse Studio dan disutradarai Tetsuro Araki. Anime-nya tayang dari 3 Oktober 2006 sampai 26 Juni 2007, dan terdiri dari 37 episode.
Light Yagami si Jenius dan Penemu
Death Note sendiri pada intinya menceritakan kisah seorang siswa SMA terbaik se-Jepang yakni Light Yagami. Light adalah karakter di Death Note yang menemukan buku catatan kematian kepunyaan shinigami (dewa kematian) yang bernama Ryuk. Buku catatan kematian itu punya kekuatan ajaib yang bisa dibilang mirip-mirip sama kekuatan mistik yang dipercaya di Indonesia, yaitu santet atau teluh. Cara kerjanya yaitu, kalau kita menulis nama seseorang di buku catatan kematian, maka orang tersebut akan seketika mati. Untung bukan seketika berkuasa, kalau begitu pasti partai anu langsung nyari itu buku.
Light Yagami adalah John Lennon dan Joseph Stalin Sekaligus
Light sebagai seorang jenius pasti memiliki keresahan yang cukup tinggi, ibaratnya mirip-mirip filsuf lah. Jadi, si Light ini memiliki keresahan tentang dunia dimana dia hidup. Light resah terhadap dunianya yang sangat busuk karena dipenuhi oleh manusia tidak berguna alias penjahat. Melalui keresehannya dia ingin menciptakan dunia tanpa para penjahat, yaitu dengan menghukum mereka dengan menggunakan kesaktian buku catatan kematian. Light sebetulnya mirip dengan John Lennon, sama-sama berimajinasi tentang dunia yang baik dan damai untuk semua. Namun, Light mewujudkan imajinasinya tersebut dengan penuh darah, hal itu membuatnya mirip dengan Joseph Stalin.
Untuk Lebih Jenius, Light Perlu Belajar ke Hotman Paris
Sekilas dari amatan gue, Death Note memiliki unsur peristiwa yang berkaitan dengan hukum tentang perbuatan yang dilakukan oleh Light. Light terlalu gampang ngebunuh orang, katanya Light jenius, tapi kok dia kaya enggak ngerti hukum gitu. Lalu, bagaimana hukum sebenarnya memandang perbuatan Light tersebut? Hari ini gue sedikit ulas dalam kacamata hukum pidana. Emang sih pada dasarnya hukum memiliki tujuan untuk keadilan, kebergunaan, dan kepastian. Jika hari ini kita memandang demikian seharusnya apa yang dilakukan oleh Light itu benar, eitss tetapi jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bos! Nyatanya menurut pandangan Hukum pidana perbuatan Light ini merupakan perbuatan onrechtmatige daad atau main hakim sendiri. Nah kan jadi keliatan kurang jeniusnya si Light. Light masih harus banyak belajar soal hukum ke sensei Hotman Paris, biar kejeniusannya makin paten.
Saya Kasih Paham Light dan Kalian Si Hakim Jalanan
Penghukuman atau main hakim sendiri ini tidak mencirikan hukum yang membawa keadilan, pasalnya orang tersebut belum terbukti bersalah, atau dalam pidana disebut sebagai asas praduga tidak bersalah atau presumption of innocence. Oleh karenanya perlu pembuktian yang kuat sehingga hukum itu berjalan adil bagi kedua belah pihak. Jika terdakwa sudah divonis bersalah, tetap saja penjatuhan hukum yang final adalah yang dikeluarkan oleh hakim. Adapun terdakwa tidak menerima keputusan hakim, maka terdapat upaya banding. Namun jika upaya banding tersebut tetap tidak mengidahkan terdakwa, maka keputusan hakim tersebut sudah bulat sekaligus adil baginya.
Hakim Bukan Robot dan Light Bukan Hakim
Apa yang dilakukan Light ini terlalu sotoy dalam memandang perlunya menyingkirkan setiap penjahat. Keambiusannya sendiri yang membawa dia masuk ke dalam tindakan kejahatan. Jika dipandang bahwa hakim tersebut kurang tepat dengan keadilan yang diyakini Light, maka perlu Light lihat bahwa hakim hari ini bukan sebuah robot yang hanya terpaku dalam peraturan perundang-undangan, seperti halnya aliran begriffsjurisprudenz. Tetapi hakim dapat berpatokan pada pertimbangan-pertimbangan dengan melihat kondisi terdakwa, misalnya jika dia sudah tua maka dianggap perlu hakim untuk bersikap lebih humanis. Jadi, sejauh ini udah paham kamu Light?