
Penulis: Deky Ikwal Pratama
Apa yang bisa kita lihat dari setiap juwita dalam drama kisah cinta? Berakhir bahagia? Atau terkultus menjadi ratu masyhur di negerinya? Kita lihat Cinderella misalnya, dia menggambarkan pesona sederhana dan dilukiskan dengan kerendahan hati dari bakal pemaisuri raja. Lalu, ada Belle yang tampak merona dihadirkan sebagi perwakilan cinta apa adanya dan bersanding dengan raja terkutuk yang nantinya berubah menjadi sempurna. Kita tarik benang merah bahwa setiap juwita pada akhirnya memiliki kemasyhuran pada masing-masing kisah yang dihadirkan.
Lalu, apakah kemasyhuran seperti itu yang menjadi ide bagi para hawa? Terkadang para hawa begitu bermimpi memiliki gambaran seperti para putri Disney. Mereka ingin sekali kisah fiksi itu dibuat begitu nyata, namun ada bagian yang mereka lupakan, yaitu cerita fiksi adalah fiksi, dan hal demikian sulit untuk dibuat jadi realita. Terlalunya dimesrakan kita oleh kidung merdu dari bungkus cerita, jika kita benturkan dengan keadaan hari ini, maka mesra itu ada pada negeri maya. Kalau kebenaran adalah persesuaian ide dan realita, maka bayang-bayang juwita-juwita tadi hanya sampai pada ide atau mimpi.
Akhir-akhir ini kita dihadirkan begitu banyak mimpi dari harta atau pun tahta. Persis seperti para juwita dalam kisah fiksi yang selalu berakhir bahagia. Terbayang apabila manusia menjejak satu sama lainnya, menjadi serigala bagi manusia lainnya karena harta. Bayang itu kemudian dihadirkan dalam serial menarik dari Korea Selatan, yakni Squid Game.
Squid Game merupakan sebuah representasi dari realita, hadir sebagai peragaan untuk mengamini kalimat filsuf asal Inggris Thomas Hobbes yang berbunyi “Homo Homini Lupus”, yang artinya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Begitu berebutnya manusia karena terdesak realita. Squid Game bercerita mengenai sekumpulan manusia saling berebut harta dengan bertaruh jiwa. Dibalik panasnya permainan itu ada juwita yang melirik hati dengan limpahan masalah. Tidak perlu kita dihadirkan pada ceritanya, hal itu sudah kontras pada sorot matanya. Kang Sae Byeok ialah juwita itu. Dia dihadirkan sebagai sosok melankolia sebab keadaan yang memaksanya untuk berlaku tidak adil pada manusia lainnya. Hal itu ditujukan untuk adiknya sebagai tujuan dirinya bertahan hidup di sasana dunia.
Adiknya yang menjadi pelipur atas luka yang melibas dirinya dalam arena sandiwara dunia. Juwita itu bertabrakan dengan kisah dua juwita lain pada prolog dengan penderitaan yang tidak begitu melibas moral. Tidak adanya paduka tuan menawan dengan tahta serta juru selamat juwita menjadi perbandingan cukup mencolok. Alih-alih peran paduka tuan ada pada pemeran utama namun tidak membahagia pada puncak sinema. Kita dihadirkan juwita melankolia menemukan kawan curahan hati, hal ini tampak ketika dihadirkan Ji Yeong sebagai orang yang tiba untuk berbagi cerita, selayaknya para perkakas dapur teman Belle atau ibu peri dari Cinderella. Mereka hadir dengan sebagai penolong dikala harap mulai meredup. Kang Sae Byeok adalah juwita dalam susana melonkolia dengan perkasa melewati lorong gelap dengan setitik pelita, kita mulai belajar darinya.
Dari Kang Sae Byeok kita melihat bahwa setiap juwita perlu punya alasan kenapa diwajibkan konsisten pada tujuan utama. Karena tidak semua juwita perlu melulu berharap pada paduka tuan. Paduka tuan terkadang tidak hadir pada sasana sandiwara dunia. Perlunya para juwita menjelmai paduka tuan itu. Melibas arena sasana dengan mempesona. Biar kidung yang lembut dapat hadir lewat bibir merah merona dalam tiap juwita. Kidung yang membawa aman dalam langkah perjuangan. Langkah perjuangan hadir dalam laku yang jelas, tidak melulu terjelembab dan terjebak pada sasana maya. Melaku dengan langkah-langkah sedikit dimulai dari hari ini. Maka tunjukan bahwa juwita layaknya Kang Sae Byeok tidak bergantung pada paduka tuan karena dia menjelmai peran itu sekaligus.


















