Arsip Tag: global warming

Banjir dan Curah Hujan Tinggi adalah Tanda Perubahan Iklim Benar Terjadi

Seorang pria berjalan di tengah jalan yang terendam banjir di Kecamatan Semboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Foto: twitter/jaring_uburubur)

Pada penghujung Agustus dan pembuka September 2021 ini, Indonesia harus bersambut dengan beberapa peristiwa pilu. Seperti banjir bandang di Bogor (6/9/2021), banjir di Samarinda, Kalimantan Timur (3/9/2021), Aceh Timur (24/8/2021), dan beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Tengah (23/8/2021).

Siapa dapat menyangka ungkapan ‘September kelabu’ adalah benar terjadi di 2021 ini. Sebelumnya ‘September kelabu’ adalah sarana kita untuk mengingat peristiwa kelam di masa lalu. Untuk semua tragedi di September yang lalu atau yang saat ini, mari kita hening sejenak untuk memancarkan duka dan simpati pada para korban atau penyintas atas bencana yang terjadi di belakang waktu dan juga hari-hari ini. Semoga negeri ini dapat kembali pulih.

Banjir Terjadi yang Salah Hujan Lagi

Dampak banjir bandang Sungai Cidurian, Bogor

Banjir bandang yang menimpa Bogor, tepatnya menimpa empat kecamatan, di antaranya yaitu Sukajaya, Nanggung, Cigudeg, dan Jasinga diakibatkan oleh luapan Sungai Cidurian. Hulu Sungai Cidurian sendiri berada di sekitar Sukajaya yang termasuk kawasan kaki Gunung Salak.

Seperti yang dilaporkan oleh BPBD Kab. Bogor (7/9/2021), Sungai Cidurian meluap karena intesitas hujan yang tinggi di sekitar Sukajaya pada Senin sore hingga petang hari. Hal itu menyebabkan debit air membludak dan terjadilah banjir bandang yang menimpa empat kecamatan yang telah disebutkan.

Dampak banjir bandang tersebut menimpa area di sekitar sungai saja. Jembatan penghubung antar kampung di Kecamatan Nanggung mengalami kerusakan, juga beberapa rumah warga yang tepat berada di sekitar bantaran sungai mengalami kerusakan. Tidak ada korban jiwa atas peritiwa tersebut.

Kondisi banjir di Katingan, Kalimantan Tengah

Kondisi lebih parah terjadi di Kalimantan Tengah (Kalteng), banjir di sana menimpa 11 kabupaten/kota, yang mana minggu-minggu sebelumnya banjir hanya melanda 7 kabupaten saja. Artinya sejauh ini banjir di daerah Kalteng telah mengalami perluasan.

Kabupaten Katingan menjadi salah satu yang terparah, menurut penjelasan Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBPK Kalteng Erlin Hardi yang dimuat di Kompas.id (6/9/2021), terdapat 13 kecamatan dengan 67 desa di Katingan yang terendam banjir. Banjir menyebabkan 16.130 orang terdampak, ribuan rumah, sekolah, gereja, masjid, dan bangunan publik lainnya juga terendam. Ketinggian air mulai dari 40 senitimeter hingga 2 meter.

Masih menurut Erlin, banjir yang menimpa daerah Kalteng disinyalir akibat intensitas hujan yang tinggi. Erlin juga berpendapat bahwa banjir yang terjadi saat ini jauh lebih lama dan lebih parah karena dipicu oleh kondisi cuaca yang cukup ekstrem.

Faktor Penyebab Tingginya Curah Hujan

Ilustrasi hujan (Via: pexels)

Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN Eddy Hermawan dalam Antara News (1/9/2021) memberikan keterangan bahwa, pada bulan Agustus sampai September ini di daerah Pulau Jawa harusnya mengalami puncak dari musim kemarau. Namun, seperti yang kita ketahui cuaca mendung acap kali terjadi. Menurut Eddy ketidakberesan itu terjadi karena di sekitar permukaan laut suhunya masih terasa hangat.

Lebih luas lagi Eddy menjelaskan curah hujan di beberapa titik di Indonesia yang tinggi terjadi karena besarnya pengaruh angin monsun dan tingginya indeks dari Indian Ocean Dipole (IOD). Menurutnya pergerakan angin dari Monsun Asia atau Monsun Australia telah membawa uap air.

Selaras dengan itu, Kepala Sub Bidang Prediksi Cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Muhamad Fadil dalam laporan Kompas.com (25/8/2021) menjelaskan bahwa, faktor lain yang mendukung pertumbuhan awan hujan adalah adanya Madden Jullian Oscillation (MJO) yang melintasi Indonesia dan juga pengaruh gelombang ekuator seperti Rossby EQ dan Kelvin.

Mengutip dari situs greeners.co (10/4/2019), fenomena MJO adalah kejadian bergeraknya gelombang atmosfer dari barat yakni dari arah Samudra Hindia ke arah timur dengan membawa massa udara basah. Ketika fenomena tersebut terjadi maka curah hujan di daerah-daerah yang dilintasinya akan meningkat.

Ketidakberesan itu Terjadi Akibat Perubahan Iklim

Ilustri dampak perubahan iklim (Via: pexels)

Sebelumnya kita telah mendengar curah hujan tinggi karena cuaca ekstrem dari Erlin, kita juga mendengar suhu hangat di sekitar laut dari Eddy. Hal-hal berikut harus kita sadari adalah bagian dari akibat terjadinya perubahan iklim yang sudah tidak dapat disangkal lagi.

“Jumlah cuaca, iklim, dan air ekstrem terus naik dan akan lebih sering terjadi, juga lebih parah, di banyak bagian di dunia karena perubahan iklim,” ungkap Sekretaris Jenderal Badan Meteorologi Dunia (WMO) Prof. Petteri Taalas dalam laporan BBC NEWS Indonesia (10/9/2021).

Taalas juga memberi peringatan akan adanya potensi bencana serupa dengan apa yang terjadi di Eropa dan Amerika yaitu gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan. Taalas juga memperingatkan soal kuantitas air di atmosfer yang begitu banyak, hal itu sangat potensial untuk memperburuk curah hujan ekstrem dan banjir bandang, lalu menurutnya soal pemanasan suhu laut juga telah mempengaruhi frekuensi dan area terjadinya badai tropis yang intens.

Merujuk pada ringksan laporan tentang kenaikan suhu bumi yang dikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada Agusutus 2021, dengan tegas para ilmuwan di IPCC yang menyusun laporan tersebut menyatakan bahwa manusia memiliki andil dalam memanasnya atmosfer, lautan, dan daratan. Perubahan dan dampak dari pemanasan tersebut sudah bermunculan dan dapat kita rasakan. Salah satunya mungkin adalah bencana yang menimpa negeri kita ini.

Laporan IPCC tersebut juga menyebutkan bahwa, suhu permukaan bumi secara global terus meningkat. Pemanasan global sebesar 1,5 celsius dan 2 celsius dapat terlampaui selama berjalannya abad ke-21 ini, hal itu dapat saja dihindari dengan terjadinya pengurangan terhadap karbon dioksida (CO2) dan emisi gas rumah kaca dalam beberapa dekade mendatang.

Artinya masih ada kesempatan dan harapan bagi kita untuk menekan perubahan iklim dan ribuan dampaknya untuk tidak terus terjadi. Perubahan iklim bukan lagi bualan atau cerita horor semata, justru yang jelas-jelas horor adalah segala bencana iklim yang terjadi di depan mata dan menimpa saudara-saudara kita.